Diduga Eksploitasi Pasien dan Tak Layak, Panti Rehab di Sidoarjo Didesak untuk Disidak

Reporter : redaksi

Sidoarjo, bnewsjatim.id - Praktik pengelolaan panti rehabilitasi narkoba swasta kembali menjadi sorotan tajam. Alih-alih menjadi tempat penyembuhan dan pemulihan, sebuah panti rehabilitasi bernama "Inabah Bunda" yang berlokasi di Jl. Taman Pinang Indah, Lemah Putro, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, diduga kuat menerapkan praktik eksploitatif, fasilitas tak layak, hingga dugaan keterlibatan oknum petugas dalam aktivitas terlarang.

Tabir kelam ini terbongkar setelah salah seorang pasien berinisial Rudi, warga asal Desa Sokobanah Barat, Kecamatan Sokobanah, Kabupaten Sampang, Madura, berhasil meloloskan diri dan kabur dari panti tersebut.

Baca juga: Sudah Ditertibkan, Tapi Mana Pelakunya? Dugaan Sabung Ayam di Kalipecabean Sisakan Tanda Tanya

Kepada awak media, inisial RI yang sebelumnya diantar oleh anggota Polsek Sokobanah untuk menjalani rehabilitasi atas persetujuan orang tuanya, membeberkan sejumlah kejanggalan fatal yang dialaminya selama berada di dalam panti tanpa adanya tekanan.

Berdasarkan pengakuan konkret RI, terdapat sedikitnya enam kejanggalan utama terkait operasional Panti Rehab Inabah Bunda.Setibanya di lokasi, keluarga pasien langsung dipatok biaya sebesar Rp 4,5 juta per bulan. Namun, RI mengaku dipaksa membayar jatah 2 bulan meski baru menjalani rehabilitasi selama 1 bulan, dan uang titipan orang tuanya tidak dikembalikan.

Menu makanan harian dinilai sangat tidak layak, hanya berupa tahu atau tempe goreng. Bahkan, pasien kerap diberi makan nasi goreng bekas semalam.

Uang saku yang ditransfer oleh orang tua pasien kerap ditahan dan tidak disampaikan oleh oknum petugas, salah satunya petugas berinisial F. "Masalah kiriman dari orang tua itu semua petugas saling menutup-nutupi," ungkap RI.

Pelanggaran paling berat, Rudi mengaku justru dicekoki barang terlarang dan diajak berjudi oleh oknum petugas. "Dan saya di sana sempat nyabu, minum arak, dan diajak judol (ngeslot) sama petugasnya (F)," aku RI secara gamblang.

Pasien tidak diberikan resep medis kedokteran yang benar untuk penetral ketergantungan, melainkan rutin dicekoki obat tidur setiap hari agar lemas dan penurut.

Tidak ada ruang untuk aktivitas olahraga. Pasien merasa terintimidasi di dalam lingkungan yang sempit dan dipaksa fokus pada kejenuhan aktivitas tanpa pemulihan mental yang tepat.

Menindaklanjuti pengakuan sepihak dari korban, awak media langsung melakukan investigasi lapangan ke gedung panti rehabilitasi "Inabah Bunda" pada Selasa malam sekira pukul 20.15 WIB.

Baca juga: Dugaan Pembiaran Oknum Aparat di Sidoarjo, Warga Dikeroyok 50 Orang Usai Mediasi di Polsek Sukodono

Di lokasi, awak media ditemui oleh seorang relawan panti bernama Ricky. Secara mengejutkan, Ricky membenarkan keberadaan oknum petugas yang disebutkan oleh korban, termasuk keterlibatan oknum aparat.

"Memang benar di sini ada petugas bernama A (disebut sebagai anggota TNI) dan F (petugas baru), namun saat ini tidak bertugas di sini, melainkan di panti satunya," jelas Ricky di hadapan awak media.

Saat dikonfirmasi mengenai poin-poin keluhan RI, Ricky tidak menampik sebagian besar fakta tersebut, namun memberikan pembelaan.Terkait biaya Rp 4,5 juta, ia membenarkan dengan alasan biaya kebutuhan pokok saat ini mahal.

Terkait penahanan uang transferan pasien, Ricky berdalih hal itu sengaja dilakukan (dibekukan) agar pasien tidak belanja sembarangan dan belajar hemat.

Terkait pemberian obat tidur, Ricky mengakui hal tersebut secara terang-terangan. "Benar kami beri resep obat tidur agar (pasien) cepat dibangunkan untuk melaksanakan ibadah shalat malam (tahajjud)," dalihnya. Namun, Ricky membantah keras tuduhan mengenai petugas yang mengajak pasien mengonsumsi sabu dan bermain judi online.

Baca juga: Borok Rehab Sahwahita Sidoarjo: Pengelola Sebut Ngawur, Gak Bahaya Ta Diduga Pasien Ngaku Bayar BelasanJuta Hasil Ngemis

Meski pihak panti berdalih menerapkan metode disiplin ala pondok pesantren dan Majelis Dzikir, sistem keamanan panti ini terbukti rapuh. Ricky mengakui ada 4 orang pasien yang berhasil lolos kabur dari panti tersebut tanpa diketahui petugas.

Lebih mencengangkan lagi, terungkap informasi bahwa sekitar sebulan yang lalu, terdapat beberapa pasien yang dilaporkan meninggal dunia di dalam panti rehabilitasi ini. Kematian tersebut diduga akibat pasien mengalami over-depresi, mental yang jatuh (down), dan merasa terintimidasi oleh tekanan semi-militer, diperparah dengan sikap acuh tak acuh petugas saat pasien mengalami sakit fisik.

Melihat fakta bahwa fungsi rehabilitasi medis telah bergeser menjadi tempat pengurungan yang tidak manusiawi, warga dan keluarga pasien mendesak instansi terkait baik Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, maupun aparat kepolisian untuk segera melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) dan memeriksa kelengkapan izin operasional Panti Rehab Inabah Bunda Sidoarjo.

Masyarakat meminta tempat-tempat yang diduga berkedok panti rehabilitasi namun bermotif komersialiasasi (memperkaya diri) dengan mengabaikan hak asasi dan kesehatan pasien seperti ini segera ditindak tegas secara hukum. 

Sesuai Kode Etik Jurnalistik, media ini memberikan ruang seluas-luasnya bagi pihak terkait untuk memberikan hak jawab atau klarifikasi lebih lanjut.(Team/Red)

Editor : redaksi

Peristiwa
Terpopuler
Berita Terbaru